me right now

i’m still battling with my own depression.

fighting this kind of shit alone.

it’s hard to suffer from this.

the other side, i don’t want to show this in front of others.

they have to know that i’m happy.

but inside my heart, i know that i’m not.

it’s numb.

nobody knows that i’ve been struggling for this for a long time.

no one cares.

nobody cares.

they might be curious, not caring.

i’ve start to deactivate all of my social media except line and whatsapp. trying to cure this ‘useless feeling’ but…it doesn’t work.

dear brain,

can you plis stop to say ‘you have to die..you have to die’? cause i won’t it.

i don’t know how long i can beat this word, against this feeling.

cause maybe there’s a time when i need to give up.

when nobody cares, like now. when all of my self-control is suddenly disappear.

for those who read this message, i’m sorry if i have a lot of mistakes to you. i know i’m very very useful. it’s nice to know you as a person.

Advertisements

mengenai rindu

mengenai rindu; ada saatnya haru dan pilu, serta mungkin patah hati. disaat hatinya tak hanya diisi oleh dua wanita seperti dulu: aku dan ibumu. bertambah lagi satu. oleh siapapun itu.
kaka, semua org sayang kaka. Allah juga sayang kaka. semoga dirahmati senyum dan juga susahmu. cinta dan juga citamu. selalu. ❤️

Kepada Bumi

jika seorang merasa jatuh cinta
pada senyum
pada tawa
ingatlah
jika matahari datang setiap hari menemui bumi
membantu bumi
menghangatkan bumi
memberi energi pada bumi
tapi nyatanya, dia tidak mencintai bumi,
dan tidak meminta untuk dicintai bumi
karena ia datang bukan untuk mengharap kasih
hanya untuk menegaskan, jika ia seorang penyayang.

Jangan Bersedih.

hakikatnya, hidup ini berputar.

rezeki, harta, jabatan, popularitas; bisa lenyap tanpa batas.

suka, duka, tangis, tawa; berpadu silih-berganti.

 

dunia ini siklus yang berkesinambungan;

yang pada akhirnya akan berhenti, menepi.

dan manusia akan mulai menyerahkan diri.

 

apa pantas jika kita merasa sedih?

sementara Tuhanmu Maha Adil,

memutarkan rezeki dan kasih sayangNya kepada setiap orang.

memutarkan kesedihan agar membuat manusia lebih dekat kepadaNya.

 

apa pantas jika kita merasa kehilangan?

sementara Tuhanmu sungguh Maha Pemurah,

apa yang kau punya kemarin-hari ini-maupun esok,

sebenarnya bukan apa-apa

sebenarnya bukan milik siapa-siapa

semua akan hilang, dan Tuhan ganti dengan sesuatu yang baru diluar nalar manusia. Ya, pasti.

 

 

Ya Allah,

keinginanku banyak,

yang tak realistis juga banyak,

tak apa bila Engkau senang mendengar doaku. Hamba sungguh senang.

karena hamba yakin Engkau tak pernah membiarkan kupu-kupu singgah tanpa nektar.

tak membiarkan tamu pamit tanpa suguhan.

 

 

Ketika kita punya Tuhan yang Maha Kaya,

masihkah kau takut menjadi miskin?

 

 

(jika iya, keimananmu sungguh perlu dipertanyakan lagi)

 

 

 

Jakarta, 28 November 2016

self reminder, ketika laptop dipindah-tangankan rezekinya kepada orang lain (read: hilang) *cry*

sepertiga malam

layaknya pelangi,

dipandang penuh kekaguman, lalu menghilang.

layaknya pewangi,

dihirup lembut, lalu menguap.

 

ya, Tuhanku yang Maha Pemurah ini memang selalu tahu kebutuhanku.

Merasakan rasanya kupu-kupu beterbangan di perutku tak harus disertai asam lambung yang bergejolak.

menumbuhkan cinta layaknya demam septic,

menjulang tinggi, lalu turun walau masih diatas batas normal.

mengagumi, lalu melupakan walau masih menyisakan; hanya sedikit.

se-sederhana itu.

 

Tuhanku Maha Tahu

bahwa tanganku masih belum terkontaminasi genggaman;

bahwa mataku masih belum terkontaminasi pandangan;

bahwa bibirku masih belum terkontaminasi sentuhan;

yang tak seharusnya.

Tuhan masih menjagaku dengan kasih sayangnya.

 

penting untuk diingat,

tak semua bisa makan banyak tapi tetap kurus

tak semua bisa mudah jatuh cinta tapi mudah pula melupakan

seakan menumbuhkan rasa di mulut tanpa menimbulkan penyakit di perut.

 

 

lalu,

nikmat Tuhan manakah yang akan kamu dustakan?

terlampau jauh

 

tak ada yang lebih sunyi dari secangkir kopi dan teh; yang saling mengaduk, tapi tak mencampuri.

tiada apa kabar, hanya isi kepala yang berkecamuk untuk dipenuhi.

 

miris sekali.

kuteguk botol di tangan kiri, tak tahan lagi.

aku harus mati sejenak malam ini.

Sudah bulan dua, dan masih sama.

Sekarang Tuan bisa sedikit tenang, sedikit bernafas karena petualangan mencari x dan y membutakanmu. Begitu merenggut waktu dan menguras tenagamu. Membuatmu bisa melupakanku yang dulu begitu disanjung dan sekarang hanya dianggap angin lalu. Tidak, bukan angin. Kotamu sangat panas, nyaris tak berangin. Aku hanya kepulan asap Damri yang hanya terdeteksi jika menusuk paru-parumu, menyumbat hidungmu, dan memekikkan tenggorokanmu.

Kacamatamu menebal, matamu menyipit. Bisa kutebak bagaimana harum kamarmu sekarang, Tuan. Pasti berbau kopi. Pantas. Berenang di samudera butuh usaha lebih untuk bernafas, bukan?

Ingin rasanya memperingatimu, menyeruput kopi terlalu sering tak baik untuk kesehatanmu. Tidak, bukan berarti aku bawel, tapi sebagai wanita yang cukup mengerti tentang medis membuatku tergerak untuk menghentikanmu, setidaknya meminimalisasinya. Ah, aku sudah menebak reaksimu nanti yang berkata iya sembari tersenyum. Kau begitu dingin tapi menghangatkan. Setidaknya kepaku, satu tahun yang lalu.

Tuan, kau begitu berpeluh keringat dalam mencari ilmu. Kau ingin sesegera mungkin menyudahinya, bukan? Aku masih ingat kata-katamu yang berkata bosan hidup begini terus, ingin segera bekerja dan menempuh hidup baru. Ya, kata-kata itu berputar dalam otakku. Membuatku ingin terus menyemangatimu dan mendoakanmu. Tentu saja. Walau kau tak menatap komat-kamit bibirku, tapi langit tau. Kerinduan ini tak butuh persimpangan, ia hanya butuh tujuan.

Semangat, Tuan eksak! Apa yang kau tanam hari ini, adalah apa yang kau makan esok. Selamat merangkai masa depan,
walau bukan denganku.

Bukankah seharusnya begitu?

Bukankah seharusnya begitu?

Membiarkanmu melanglang buana menjelajahi bumi tanpa harus merasa tersakiti?
Ah, maaf. Aku hanya khawatir kompasmu hilang, khawatir tak bisa melihatmu pulang.

Semenjak itu, tak ada lagi malam yang selalu ku tunggu-tunggu hingga terlarut dalam dinginnya angin shubuh. Alergiku tak kambuh lagi sekarang, tapi rasanya hambar.
Percakapan malam hanya akan mengabu menjadi arsip. Tak ada lagi kabar yang selalu ku nanti pada jam-jam diatas sepuluh ketika kau selesai berjuang. Peluhmu tak lagi bisa ku bersihkan. Semuanya akan usang.
Bukankah seharusnya begitu?

Tugasku bukan untuk mengurungmu. Kau tidak sedang berada dalam penjara, lingkaran setan pun tidak.
Silahkan terbang, melayang kemanapun angin membawamu berpetualang. Lembayung sore sungguh indah untuk dilewatkan.

Sekarang, aku mungkin bisa tenang, atau lebih tepatnya berpura-pura tenang.
Miris rasanya melihat potret yang tersimpan, kita harus dipaksa tersenyum dalam sebuah perpisahan.

Bukankah seharusnya begitu?
Satu yang tak dapat dipungkiri.
Semenjak kau pergi, aku kehilangan duniaku sendiri.
Duniaku, kamu.