Kepada Bumi

jika seorang merasa jatuh cinta
pada senyum
pada tawa
ingatlah
jika matahari datang setiap hari menemui bumi
membantu bumi
menghangatkan bumi
memberi energi pada bumi
tapi nyatanya, dia tidak mencintai bumi,
dan tidak meminta untuk dicintai bumi
karena ia datang bukan untuk mengharap kasih
hanya untuk menegaskan, jika ia seorang penyayang.

Advertisements

Jangan Bersedih.

hakikatnya, hidup ini berputar.

rezeki, harta, jabatan, popularitas; bisa lenyap tanpa batas.

suka, duka, tangis, tawa; berpadu silih-berganti.

 

dunia ini siklus yang berkesinambungan;

yang pada akhirnya akan berhenti, menepi.

dan manusia akan mulai menyerahkan diri.

 

apa pantas jika kita merasa sedih?

sementara Tuhanmu Maha Adil,

memutarkan rezeki dan kasih sayangNya kepada setiap orang.

memutarkan kesedihan agar membuat manusia lebih dekat kepadaNya.

 

apa pantas jika kita merasa kehilangan?

sementara Tuhanmu sungguh Maha Pemurah,

apa yang kau punya kemarin-hari ini-maupun esok,

sebenarnya bukan apa-apa

sebenarnya bukan milik siapa-siapa

semua akan hilang, dan Tuhan ganti dengan sesuatu yang baru diluar nalar manusia. Ya, pasti.

 

 

Ya Allah,

keinginanku banyak,

yang tak realistis juga banyak,

tak apa bila Engkau senang mendengar doaku. Hamba sungguh senang.

karena hamba yakin Engkau tak pernah membiarkan kupu-kupu singgah tanpa nektar.

tak membiarkan tamu pamit tanpa suguhan.

 

 

Ketika kita punya Tuhan yang Maha Kaya,

masihkah kau takut menjadi miskin?

 

 

(jika iya, keimananmu sungguh perlu dipertanyakan lagi)

 

 

 

Jakarta, 28 November 2016

self reminder, ketika laptop dipindah-tangankan rezekinya kepada orang lain (read: hilang) *cry*

sepertiga malam

layaknya pelangi,

dipandang penuh kekaguman, lalu menghilang.

layaknya pewangi,

dihirup lembut, lalu menguap.

 

ya, Tuhanku yang Maha Pemurah ini memang selalu tahu kebutuhanku.

Merasakan rasanya kupu-kupu beterbangan di perutku tak harus disertai asam lambung yang bergejolak.

menumbuhkan cinta layaknya demam septic,

menjulang tinggi, lalu turun walau masih diatas batas normal.

mengagumi, lalu melupakan walau masih menyisakan; hanya sedikit.

se-sederhana itu.

 

Tuhanku Maha Tahu

bahwa tanganku masih belum terkontaminasi genggaman;

bahwa mataku masih belum terkontaminasi pandangan;

bahwa bibirku masih belum terkontaminasi sentuhan;

yang tak seharusnya.

Tuhan masih menjagaku dengan kasih sayangnya.

 

penting untuk diingat,

tak semua bisa makan banyak tapi tetap kurus

tak semua bisa mudah jatuh cinta tapi mudah pula melupakan

seakan menumbuhkan rasa di mulut tanpa menimbulkan penyakit di perut.

 

 

lalu,

nikmat Tuhan manakah yang akan kamu dustakan?

terlampau jauh

 

tak ada yang lebih sunyi dari secangkir kopi dan teh; yang saling mengaduk, tapi tak mencampuri.

tiada apa kabar, hanya isi kepala yang berkecamuk untuk dipenuhi.

 

miris sekali.

kuteguk botol di tangan kiri, tak tahan lagi.

aku harus mati sejenak malam ini.

Sudah bulan dua, dan masih sama.

Sekarang Tuan bisa sedikit tenang, sedikit bernafas karena petualangan mencari x dan y membutakanmu. Begitu merenggut waktu dan menguras tenagamu. Membuatmu bisa melupakanku yang dulu begitu disanjung dan sekarang hanya dianggap angin lalu. Tidak, bukan angin. Kotamu sangat panas, nyaris tak berangin. Aku hanya kepulan asap Damri yang hanya terdeteksi jika menusuk paru-parumu, menyumbat hidungmu, dan memekikkan tenggorokanmu.

Kacamatamu menebal, matamu menyipit. Bisa kutebak bagaimana harum kamarmu sekarang, Tuan. Pasti berbau kopi. Pantas. Berenang di samudera butuh usaha lebih untuk bernafas, bukan?

Ingin rasanya memperingatimu, menyeruput kopi terlalu sering tak baik untuk kesehatanmu. Tidak, bukan berarti aku bawel, tapi sebagai wanita yang cukup mengerti tentang medis membuatku tergerak untuk menghentikanmu, setidaknya meminimalisasinya. Ah, aku sudah menebak reaksimu nanti yang berkata iya sembari tersenyum. Kau begitu dingin tapi menghangatkan. Setidaknya kepaku, satu tahun yang lalu.

Tuan, kau begitu berpeluh keringat dalam mencari ilmu. Kau ingin sesegera mungkin menyudahinya, bukan? Aku masih ingat kata-katamu yang berkata bosan hidup begini terus, ingin segera bekerja dan menempuh hidup baru. Ya, kata-kata itu berputar dalam otakku. Membuatku ingin terus menyemangatimu dan mendoakanmu. Tentu saja. Walau kau tak menatap komat-kamit bibirku, tapi langit tau. Kerinduan ini tak butuh persimpangan, ia hanya butuh tujuan.

Semangat, Tuan eksak! Apa yang kau tanam hari ini, adalah apa yang kau makan esok. Selamat merangkai masa depan,
walau bukan denganku.

Bukankah seharusnya begitu?

Bukankah seharusnya begitu?

Membiarkanmu melanglang buana menjelajahi bumi tanpa harus merasa tersakiti?
Ah, maaf. Aku hanya khawatir kompasmu hilang, khawatir tak bisa melihatmu pulang.

Semenjak itu, tak ada lagi malam yang selalu ku tunggu-tunggu hingga terlarut dalam dinginnya angin shubuh. Alergiku tak kambuh lagi sekarang, tapi rasanya hambar.
Percakapan malam hanya akan mengabu menjadi arsip. Tak ada lagi kabar yang selalu ku nanti pada jam-jam diatas sepuluh ketika kau selesai berjuang. Peluhmu tak lagi bisa ku bersihkan. Semuanya akan usang.
Bukankah seharusnya begitu?

Tugasku bukan untuk mengurungmu. Kau tidak sedang berada dalam penjara, lingkaran setan pun tidak.
Silahkan terbang, melayang kemanapun angin membawamu berpetualang. Lembayung sore sungguh indah untuk dilewatkan.

Sekarang, aku mungkin bisa tenang, atau lebih tepatnya berpura-pura tenang.
Miris rasanya melihat potret yang tersimpan, kita harus dipaksa tersenyum dalam sebuah perpisahan.

Bukankah seharusnya begitu?
Satu yang tak dapat dipungkiri.
Semenjak kau pergi, aku kehilangan duniaku sendiri.
Duniaku, kamu.

Menggambar (kembali) kanvas polos

hidup ini tak ubahnya seperti kanvas polos dan kosong, yang tak memanjakan mata jika tak diberi warna. Entah hijau ataupun biru; asalkan jangan merah perlahan tertuang dalam atas nama takdir; entah disengaja ataupun tidak; entah disukai ataupun tidak, isi kanvas telah tertuang di lauful mahfudz, dalam genggaman Tuhan.

spektrum warna tertuang perlahan namun intens; seterang lampu panggung ibu kota, ataupun menggelap layaknya bumi kala gerhana menyapa; tebal tipis tergores menggantungkan diri pada tangan mungil yang melekat kuas erat-erat; sesekali sikut membuat warna bertumpahan; tinta hitam terkapar bahkan sobek tak beraturan; konsenterasi hilang.

anggaplah kanvas sebagai hati; bayangkan bagaimana susahnya merekatkan kembali bagian yang telah robek; kalaupun bisa pastilah berbekas, setidaknya membentuk jaringan parut.

pun luka dalam hati; mereka bilang bahwa luka akan hilang dimakan linimasa waktu, tapi nyatanya aku tak kunjung sembuh.

tapi, biarlah luka ini tetap kambuh jika penyembuhnya adalah menorehkan luka baru; imun hatiku akan senantiasa memberontak. tega nian kau membuat wanita mengurung diri di pojok ruang kembali.

percayalah jika semesta kan selalu berputar pada porosnya, mengikuti hukum alam. ikuti alurnya hingga berporos pada sebuah cerita atas nama takdir.

aku selalu berdoa kepada Tuhan agar tak diberi cinta; meski itu bumbu kehidupan nyatanya belum masanya; pojok sebelah kanan samping lemari usang mesjid menjadi saksi bahwa wanita yang selalu datang sebelum maghrib dan pulang setelah isya ini benar-benar ingin mengubah hidup; mencoba memperbaiki hati mendekatkan diri pada sang Ilahi.

lebih dari sekali mengecap cinta dirasa sudah cukup; wanita itu masih berjuang untuk menyembuhkan luka (yang bukan karena cinta); luka yang ia torehkan kepada orang-orang tercinta.

Luka memang mendewasakan; lihatlah aku sekarang: wanita yang hidup dari kebangkitan masa lalu; wanita yang bangkit karena tak ingin lagi merasa hal yang sama; kegagalan menggapai angan untuk yang kedua kalinya.

Tuhan selalu punya maksud baik, bukan?
Jika ini memang sarangku, buatlah hamba menetas dalam kehangatan.

(Tol Cileunyi, 6 Desember 2015 pukul 6.33 menjelang blok Dasar Diagnostik dan Terapi)

Antara hujan, radio, dan kegalauan.

Puluhan, bahkan ratusan note telah mengarsip dalam benda pintar ini.
Tak satu pun yang ingin ku kembangkan, terlebih karena aku tak pandai merangkai kata menjadi satu kesatuan utuh. Pemalas kronis, memang.

Okey, i’ll start with a little note from now. Aku tak akan ketar-ketir kebingungan jika ponsel ini tiba-tiba harus di restart ulang, dan mini diariku hilang.

Aku benar-benar tak karuan hari ini. Terlebih karena hubungan erat hujan, radio, dan kegalauan.
Mengapa harus ada lagu-lagu pembawa kenangan disaat hujan turun dengan derasnya?
Lantunan lirik itu terdengar lebih kencang dibanding riuhnya rintik air dan klakson-klakson mobil.
Suara berontak hati pun sama ricuhnya.
Aneh. Padahal aku sendiri bingung apa yang harus ku galaukan.
Ingin rasanya ikut turun di bandara dan terbang kemana saja demi menghilangkan kegalauan. Plis, ini konyol.
Aku memang belum bisa sepenuhnya berdamai dengan masa lalu. Kenangan indah selama kurang lebih 17 tahun itu tiba-tiba menghilang karena suatu kegagalan fatal, dan aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri.
Bodoh memang.
Aku menyakiti diriku sendiri.

God, this pain is unstoppable.
Aku belum cukup pantas menjadi Amity ternyata.
Beri aku hati yang baru, Tuhan. Susah sekali rasanya merenovasi hati yang telah rusak tak berbentuk.